Jumat, 22 April 2016

Indonesia Peringkat 60 dalam Melek Huruf se-dunia

https://khozanah.files.wordpress.com/2011/01/melek-huruf.jpg
ILUSTRASI
(Koreksi: Central Connecticut State University telah merilis versi dikoreksi dari peringkat The AS bergerak naik dari 11 ke 7..)

Sebuah peringkat dunia baru negara dan tingkat melek huruf mereka menempatkan Amerika Serikat pada 7. Siapa No 1? Finlandia.

Studi yang dilakukan oleh John W. Miller, presiden Central Connecticut State University di New Britain, Conn., Analisis tren dalam perilaku melek huruf dan melek huruf di lebih dari 60 negara. Ditemukan bahwa negara-negara Nordic adalah yang paling melek di dunia, namun negara-negara di belahan bumi Barat tidak melakukannya dengan baik.

Peringkat Negara Melek Huruf
http://www.newstalk.com/content/000/images/000153/158122_60_news_hub_multi_630x0.png
Peringkat Negara Melek Huruf
Miller telah memusatkan karya akademis selama empat dekade di keaksaraan, memproduksi "Amerika Paling Literate Kota" survei 2003-2014 bekerjasama dengan Central Connecticut Center for Public Policy dan Penelitian Sosial.

Dalam sebuah pernyataan, ia mengatakan: "Faktor kami memeriksa hadir potret kompleks dan bernuansa vitalitas budaya bangsa, dan apa peringkat sangat menyarankan dan melek dunia menunjukkan bahwa jenis-jenis perilaku melek huruf sangat penting untuk keberhasilan individu dan bangsa dalam ekonomi berbasis pengetahuan yang menentukan masa depan global kami.

Peringkat melihat variabel yang berhubungan dengan prestasi literasi diuji - nilai pada PIRLS atau Progress in International Reading Literacy Study, dan pada PISA, Program for International Student Assessment - serta karakteristik perilaku melek huruf. Mereka termasuk 15 variabel dikelompokkan dalam lima kategori: Perpustakaan, Koran, Pendidikan Sistem-Input, Sistem Pendidikan-Output dan Ketersediaan Komputer, serta populasi, yang digunakan untuk membangun rasio per kapita.

Mengingat bahwa skor tes siswa internasional merupakan tindakan dipertanyakan bagaimana satu negara benar-benar di atas yang lain untuk berbagai alasan, adalah wajar untuk bertanya-tanya bagaimana mereka membelokkan hasil dari peringkat ini. Miller membahas masalah agak dalam pernyataan, mengatakan bahwa hasilnya akan "sangat berbeda" jika PIRLS dan PISA adalah satu-satunya faktor. Dia berkata:

"Negara-negara Pasifik, Indonesia, Singapura, Korea Selatan, Jepang dan China, akan atas daftar jika kinerja tes adalah satu-satunya ukuran. Finlandia akan menjadi satu-satunya negara non-Pacific Rim untuk peringkat tinggi. Ketika faktor-faktor seperti ukuran perpustakaan dan aksesibilitas ditambahkan dalam, negara-negara Pasifik turun drastis."

Jika, tentu saja, ia hanya melihat nilai tes siswa, tidak akan jauh dari peringkat keaksaraan.

Selasa, 19 April 2016

Awasi Dana Desa, Kemendesa Minta Polri tak Ciptakan Ketakutan

http://static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/sekretaris-jenderal-kementerian-desa-pdt-dan-transmigrasi-anwar-sanusi-_160419180817-122.jpg
Sekjen Kemendesa Anwar Sanusi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengajak Polri untuk bersama-sama mengawasi dana desa. Meski demikian, kepolisian diminta untuk tidak menciptakan ketakutan, agar desa dapat menjalankan program dengan cepat dan efektif.

“Kepolisian mengawal dana desa agar tepat sasaran. Marilah kita sama-sama sejak awal, untuk bekerjasama bagaimana mengawal dana desa ini. Prinsipnya, bagaimana mereka tidak tercipta ketakutan yang berdampak pada akhirnya mereka tidak melakukan apa-apa,” ujar Sekjen Kemendes PDTT, Anwar Sanusi, saat menjadi Narasumber pada Rakernis Bareskrim POLRI di Jakarta, Selasa (19/4).

Sanusi mengakui, isu yang sempat beredar bahwa program dana desa akan menciptakan koruptor-koruptor baru di tingkat desa cukup meresahkan desa. Kekhawatiran seperti itu menurutnya, pernah terjadi ketika dimulainya pelaksanaan Undang-Undang Otonomi Daerah.

“Setelah dilaksanakan Undang-Undang Otonomi Daerah, percikan masalah memang muncul, tapi daerah juga menjadi sangat berkembang. Arus urbanisai desa dan kota semakin luar biasa. Kalau tidak ada intervensi secara efektif, ini akan sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Sebagai upaya pencegahan penyimpangan, Sanusi meminta peran aktif Polri  dalam memberikan informasi pentingnya sadar hukum, terutama penggunaan dana desa.

“Selain mendorong kemandirian desa, Dana Desa juga membuka peluang penyelewengan, seperti tindakan korupsi. Oleh karena itu Polri diharapkan dapat lebih aktif dalam upaya pencegahan dengan membantu sosialisasi, mengawasi, memonitor dan menindaklanjuti tindakan korupsi terhadap penggunaan Dana Desa,” ujarnya.

Menurutnya, ketidaksepahaman masyarakat tentang penggunaan dana desa juga berpeluang mengakibatkan konflik di masyarakat. Untuk itu, ia juga meminta Polri untuk dapat lebih aktif dan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

“Dengan demikian permasalahan yang ada di desa, tidak berujung pada konflik atau main hakim sendiri,” ujarnya.

Sanusi mengatakan, satu hal yang paling spesifik dari pemerintahan Jokowi-JK adalah mewujudkan Nawacita ke 3, yakni membangun Indonesia dari pinggiran, salah satunya adalah melalui dana desa.

Tahun ini adalah tahun ke dua program dana desa. Tahun 2015 dana desa senilai Rp 20,7 Triliun sedangkan tahun 2016 meningkat cukup signifikan yakni Rp 46,9 Triliun.

"Kalau Kita lihat, dana desa sebenarnya dikelola oleh 3 kementerian, yakni Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa, PDTT. Kementerian Keuangan dalam hal ini, bertugas untuk mengalokasikan dan transfer dana desa dari rekening negara ke rekening daerah. Kemendagri bertugas pembinaan kepada kabupaten dan kota, untuk mempersiapkan daerah terkait transfer dana desa. Setelah di desa, adalah tugas Kemendesa PDTT untuk mensosialisasikan prioritas dana desa," terangnya.

Berdasarkan SKB3 Menteri, dana desa diperuntukkan 3 keperluan, di antaranya infrastruktur, sarana pra sarana dasar, dan untuk pengembangan ekonomi lokal desa. 

"ADD (Alokasi Dana Desa) bisa digunakan untuk aparatur desa. Sedangkan dana desa dapat digunakan yang sifatnya pemberdayaan masyarakat," jelasnya.

Senin, 18 April 2016

Dana Desa 2016 Akan Kurangi 6,56 Persen Masyarakat Miskin

https://img.okezone.com/content/2016/04/18/337/1366198/dana-desa-2016-akan-kurangi-6-56-persen-masyarakat-miskin-F3D6Jn1Fb3.jpg
Menteri Desa Marwan Jafar

JAKARTA – Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Marwan Jafar menargetkan, dana desa 2016 akan berkontribusi mengurangi sebanyak 6,56 persen masyarakat miskin di desa.

Dengan asumsi, jumlah penduduk miskin di desa Tahun 2015 sama dengan Tahun 2014, yakni sebanyak 17,77 juta jiwa. Dengan dana desa ini, pemerintah memproyeksikan masyarakat miskin di desa akan mendapat kesempatan bekerja dan memperbaiki kondisi ekonomi.

"Kita asumsikan, sebanyak 50 persen tenaga kerja yang terserap melalui penyaluran dana desa adalah masyarakat miskin, yakni berkisar antara 1,2 juta jiwa,” ujar Marwan saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi V DPR, di Kompleks DPR Jakarta,Senin (18/4/2016).

Marwan memperkirakan, sebanyak 60 persen dana desa yakni berjumlah Rp 28,14 Triliun akan dipergunakan untuk investasi infrastruktur. Pembangunan infrastruktur ini nantinya, akan mampu menyerap 1,9 juta tenaga kerja dengan jenis pekerjaan selama 3-6 bulan.

“Kalau dari aktivitas pengembangan ekonomi di perdesaan, kita asumsikan berimplikasi tehadap penyerapan tenaga kerja sejumlah 457.280 orang yang lebih permanen,” ujarnya.

Agar program dana desa tersebut dapat berjalan lancar, pemerintah mendorong kelancaran penyaluran dana desa. Tahun ini, dana desa disalurkan melalui 2 termin, pertama pada Maret sebanyak 60 persen dari pagu dana desa 2016 Rp 46,9 Triliun atau Rp 28,14 Triliun. Sedangkan termin ke dua yakni pada bulan Agustus, sebanyak 40 persen atau Rp 18,76 Triliun.

“Tahun lalu (2015), penyaluran dana desa relatif lancar meskipun pada awalnya terkendala karena beberapa peraturan yang dianggap terlalu rumit. Tapi ini akhirnya bisa disederhanakan dengan lahirnya SKB 3 Menteri,” ujarnya.

Menurutnya, penggunaan dana desa Tahun 2015 telah berjalan sesuai harapan, yakni untuk pembangunan infrastruktur desa seperti jalan, jembatan, irigasi dan embung yang bersifat padat karya dan swakelola.

“Penggunaan dana desa belum digunakan secara optimal untuk menggali sumber pendapatan baru melalui investasi produktif, yang dijalankan masyarakat desa dan pemberdayaan. Tahun ini mudah-mudahan akan lebih baik,”pungkasnya.

Sumber http://news.okezone.com/

Jumat, 15 April 2016

SIMPONI Bantu Wujudkan Akuntanbilitas Pengelolaan Dana Desa

http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/slider/simponi.jpg?1460703408
iliustrasi

Jakarta, 15/04/2016 Kemenkeu  – Pemanfaatan aplikasi Sistem Informasi Penerimaan Negara Bukan Pajak Online (SIMPONI) kini sudah menjangkau berbagai penjuru negeri. Hingga saat ini, sudah ada 72 Bank Persepsi dan satu Pos Persepsi yang telah menjangkau sampai ke tingkat kecamatan, bahkan telah menjangkau sebagian desa di Indonesia.

SIMPONI bahkan membantu mewujudkan akuntanbilitas pengelolaan Dana Desa dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) demi terwujudnya good governance sesuai Nawacita. Dengan SIMPONI, pembayaran/penyetoran Iuran Jaminan Kesehatan Pegawai Pemerintah Non PNS-APBD (Iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial/BPJS) dapat dilakukan secara lebih cepat, mudah dan akuntabel.

Seperti diketahui, mulai tahun 2015, pemerintah telah mengalokasikan Dana Desa dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yang merupakan salah satu sumber pendapatan dalam APBDesa. Dalam pelaksanaan APBDesa, khususnya pada belanja penyelenggaraan pemerintahan (belanja pegawai), Bendahara Desa sebagai wajib pungut Pajak Penghasilan (PPh) dan pajak lainnya wajib menyetorkan seluruh penerimaan potongan dan pajak yang dipungut ke Rekening Kas Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penyetoran potongan pajak sendiri dilakukan menggunakan Billing Pajak. Sementara, untuk setoran lainnya, seperti Iuran Jaminan Kesehatan Pegawai Pemerintah Non PNS-APBD, Bendahara Desa akan menggunakan SIMPONI sebagai sarana dalam pembayarannya. Dengan demikian, SIMPONI menjadi sistem billing yang bukan hanya mengakomodasi PNBP, tetapi juga penerimaan non-anggaran yang antara lain berasal dari Perhitungan Fihak Ketiga (PFK), seperti iuran BPJS ke Rekening Kas Negara.

Semua pembayaran Iuran BPJS akan terdokumentasikan dengan baik di history billing SIMPONI dan bisa dicetak sewaktu-waktu apabila dibutuhkan. Dokumen hasil cetakan dari history billing SIMPONI dapat digunakan sebagai dokumen sumber pencatatan pembayaran Iuran BPJS ke dalam sistem akuntansi dan pelaporan keuangan.

Kemendes: Dana Desa Tahap Pertama Mulai Disalurkan


http://www.kemendagri.go.id/media/article/images/2016/04/14/a/h/ahmad_erani_yustika_1.jpg
Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Ahmad Erani Yustika


JAKARTA - Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Ahmad Erani Yustika mengatakan dana desa tahap pertama mulai disalurkan.

"Sudah mulai disalurkan sejak akhir Maret lalu. Jumlah yang sudah disalurkan sebesar Rp7,1 triliun per 31 Maret," ujar Erani dalam diskusi di Jakarta, Kamis (14/4).

Sebelumnya, pencairan dana desa mengalami keterlambatan. Awalnya pihak Kemendes PDTT menargetkan bisa mencairkan dana pada pertengahan Maret, namun kemudian diundur hingga akhir Maret. Erani menjelaskan lambannya pencairan dana desa tersebut karena terkendala aturan yakni revisi Peraturan Pemerintah 22/2015.

Peraturan Pemerintah tersebut berfokus pada jumlah tahapan dana desa, yang sebelumnya tiga tahapan menjadi dua tahapan. Dengan demikian diharapkan penyerapan dana desa bisa maksimal.
"Berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini pencairan dana desa hanya dilakukan dua tahap yakni pada April dan Agustus," kata dia.

Jika pada 2015 penyaluran dana desa dilakukan tiga tahap yakni April (40 persen), Agustus (40 persen) dan Oktober (20 persen). Maka penyaluran dana desa pada tahun ini hanya dua kali yakni April (60 persen) dan Agustus (40 persen). Hal itu dilakukan agar penyerapan anggaran tersebut lebih optimal lagi.

Alokasi dana desa pada tahun ini mengalami peningkatan, dari sebelumnya Rp 20,7 triliun menjadi Rp 46,9 triliun.Setiap desa akan mendapatkan dana sebesar Rp 700 juta hingga Rp 800 juta. Sedangkan pada tahun sebelumnya hanya Rp 250 juta hingga Rp 300 juta.

Rabu, 13 April 2016

Pasang Surut Kewenangan Desa

http://www.berdesa.com/wp-content/uploads/2016/03/googleusercontent.com_-810x540.jpg
ilustrasi

BERDESA.COM – Tahun 2016 transfer dana pemerintah pusat ke desa sebesar Rp. 46,98 Trilyun, atau naik lebih dari 100 persen dibanding dana tahun 2015 sebesar Rp. 20,7 Triliun. Maka desa berpeluang memiliki pendapatan Rp. 1,5 M hingga Rp. 4 M tahun ini. Masalahnya, selama ini desa terbiasa menjalankan program ‘paketan’ yang semuanya diatur pusat atau struktur di atasnya. Jadi, bagaimana desa menjawab tantangan ini?

Peraturan Presiden Nomor 137 Tahun 2015 tentang Rincian APBN 2016 dalam Lampiran XX Rincian Dana Desa menunjukkan total transfer dari pusat ke desa pada tahun 2016 sebanyak Rp.46,98 Triliun. Tranfer pusat ke desa tahun 2016 naik di atas 100 persen, dibandingkan tahun 2015 sebanyak Rp. 20,7 Triliun. Dana desa adalah bagian dari pendapatan desa. Pendapat desa antara lain dari dana transfer (pusat dan daerah), Pendapatan Asli Desa, dan hibah dari pihak ketiga yang tidak mengikat. Desa berpeluang mempunyai pendapatan antara Rp. 1,5 hingga di atas Rp. 4 milyar. Pertanyaan besarnya adalah, apa saja belanja yang dilakukan desa?

Belanja desa adalah untuk melaksanakan kewenangan desa. Baik kewenangan asal-usul desa maupun kewenangan lokal berskala desa. Pasal 90 (1) PP No. 43 Tahun 2014 tentang Peraturan Pelaksanaan UU Desa menyebutkan “Penyelenggaraan kewenangan Desa berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa didanai oleh APB Desa.” APB Desa harus sesuai Peraturan Desa tentang Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDesa) yang ditetapkan setelah proses musyawarah desa. Masalahnya, sejarah desa se-Indonesia selama ini terbiasa hanya menerima “barang jadi” pada proyek pembangunan desa-nya. Akibatnya, sepanjang masa pemerintah desa tidak memiliki kapasitas untuk mengelola rencana dan belanjanya sendiri secara mandiri.

Cara yang diatur dalam UU Desa dianggapnya sebagai cara baru yang belum pernah dialami. Padahal justru itu cara wajar yang sudah seharusnya mudah dikerjakan oleh pemerintah desa. Saat ini ketakutan, kekawatiran, dan ragu-ragu menyusun APB Desa dan melakukan belanja masih menghantui benak kepala desa dan perangkatnya. Apalagi proses konsultas APB Desa dengan Camat maupun SKPD seringkali berbelit-belit dan harus berulang-ulang kali karena dinilai tidak sesuai ketentuan. Pemerintahan desa tidak boleh lelah berproses di sini karena inilah titik yang akan memotong sejarah ketidakberdayaan desa di masa lalu.

Penetapan kewenangan dalam pelaksanaan UU Desa sangat penting. Kewenangan desa menjadi dasar menyusun strategi desa untuk meningkatkan kesejahteraan, kemandiriannya, dan mengelola aset desa. Misalnya untuk mengembangkan desa wisata, BUM Desa, dll. Jika desa sudah menetapkan kewenangannya maka dasar menyusun perencanaan dan penganggaran desa sangat kuat. Proses konsultasi APB Desa akan lebih mudah karena rencana belanja sudah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 20 PP No. 60 Tahun 2014 menyebutkan “Penggunaan Dana Desa mengacu pada RPJM Desa dan RKP Desa.”

Bab IV UU Desa menegaskan kewenangan desa lahir atas asas rekognisi dan subsidiaritas, yakni kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa. Kewenangan desa meliputi bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat desa. Disamping itu masih ada kewenangan tugas yang diatur oleh supra desa dan dilaksanakan oleh desa. Kejelasan kewenangan desa tersebut yang menjadi dasar adanya fiskal transfer yang bersumber dari APBN maupun dari APBD sebagaimana diatur dalam BAB VIII UU Desa.

Jika kita cermati dialog dalam dua tahun implementasi UU Desa, banyak debat yang sudah dilakukan di dalam ruangan, namun sangat miskin dalam ranah tulisan dan regulasi pelaksanaannya. Dalam dua tahun pelaksanaan UU Desa baru beberapa kabupaten yang menerbitkan Peraturan Bupati tentang Daftar Kewenangan Desa. Seperti disebutkan di atas, Pasal 79 (1) UU Desa menyebutkan “Pemerintah Desa menyusun perencanaan Pembangunan Desa sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota.” Pasal tersebut menegaskan betapa pentingnya kewenangan desa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa.

Pertanyaannya kemudian, jika belum ada penetapan Perdes tentang Kewenangan Desa, maka apa yang menjadi dasar desa menetapkan RPJM Desa, RKP Desa, dan APBDesa? Siapa pun akan mempertanyakan dimana komitmen kabupaten/kota dalam implementasi UU Desa.

Sumber http://www.berdesa.com/