Rabu, 31 Mei 2017

PUASA IBUNDA


Muhammad Ainun Nadjib ( Cak Nun )
3 Ramadhan 1438 H
oleh: Muhammad Ainun Nadjib

www.kemlagi.desa.id - Sejak kecil saya merendam pertanyaan di lubuk hati kenapa di Keluarga saya tidak pernah saya alami dan rasakan tradisi atau suasana ritual puasa sebagaimana yang saya jumpai di semua keluarga yang lain. Memang pada setiap Ramadlan terdapat suasana khusus, semacam kegembiraan dan kekhusyukan yang tidak terjadi pada bulan-bulan yang lain. Tetapi sejumlah “perilaku” atau “upacara” yang di mana-mana terjadi, tak ada di keluarga kami.

Yang menonjol di masa kanak-kanak saya dari Ramadlan adalah bunyi “tédur” atau bedug yang ditabuh oleh dua orang di dua sisi, dengan aransemen yang khas. Bunyi “tédur” sore hari menjelang Maghrib di mana bakda Isya nanti kami mengawal shalat Taraweh, juga pada hari terakhir puasa yang besoknya Idulfitri — sangat menawan. Membuat kami anak-anak kecil tersenyum lebar tak habis-habis, tanpa pernah mampu merumuskan perasaan apa yang sedang kami alami.

Tatkala menjelang remaja, bedug dan tédur lenyap, ditelan oleh pertengkaran tentang bid’ah, ketelingsut dan terkubur oleh konflik berkepanjangan para Ulama, Kiai dan Ustadz tentang madzhab, aliran, tafsir dan berjenis-jenis kuasa dan kesombongan ilmu. Kayu, kulit kerbau dan potongan batang pohon petai penabuh bedug, tidak lagi dilibatkan dalam pernyataan Allah “sabbaha lillahi ma fis-samawati wa ma fil-ardli“, bertasbih kepada-Ku semua yang ada di langit dan bumi. Alam dihardik oleh keangkuhan ilmu manusia. Pepohonan dan hewan disingkirkan oleh supremasi Syariat hubungan manusia dengan Tuhan. Kekayaan alam diperbudak, ditindas, dijajah, dikuras dan dihabiskan oleh kehebatan peradaban manusia untuk membangun materialisme, teknologisme, industrialisme, dan hedonisme.

Di keluarga saya hampir tidak pernah ada kemewahan materi, pertunjukan spiritual, dramatisasi ibadah, buka puasa yang lebai dan over-romantik. Kalau sahur ya sahur saja sebagaimana makan-makan biasanya. Kalau berbuka ya berbuka saja, tanpa prosedur administrasi takjil ringat dilanjutkan buka-berat, sebab adanya makanan minuman ya hanya itu. Kalau taraweh ya taraweh saja. Tadarrus ya tadarrus saja. Tarhiman ya tarhiman saja. Puasa seharian ya puasa saja. Semua tanpa kehebatan, tanpa kegagahan. Tanpa men-teater-kannya. Tanpa merayakannya. Tanpa menyadar-nyadarinya. Tanpa dibungkus-bungkus dengan kealiman, kesalehan atau kesorga-nerakaan. Seingat sejak kecil di keluarga saya juga tidak ada atmosfir “nafsu” terhadap pahala seratus kali lipat, ganjaran seribu kali lipat. Kami melakukan semua itu karena memang sewajarnya kami melakukannya.

Kalau Idulfitri tiba, sehabis shalat bersama di lapangan desa, kami kembali ke rumah, tidak ada proyek panjang bersalaman, berpelukan, sungkem kepada yang lebih tua di antara 15 bersaudara. Hanya bersalaman malu-malu, dan kalau ada yang mengucapkan sesuatu, paling jauh “Nol-nol ya…“. Atau “sepure sing dowo rek“. Sepur itu kereta api, “dowo” itu panjang. Sepurnya yang panjang, maksudnya itu pengalihan simbolik dari “mohon maaf sepanjang-panjangnya”.

Bahkan kepada Ibu dan Ayah. Karena saya lama di Yogya, pernah saya membungkuk, hampir bersimpuh, mencium lutut Ibu dan Ayah. Tapi Ibu tertawa terpingkal-pingkal dan Ayah tersenyum-senyum. Padahal sudah saya hapalkan narasi adiluhung: “Kawulo caos sembah pangabekti, mugi katur ing ngarsanipun Ibu lan Bapak, mbok bilih wonten klenta-klentunipun atur kulo saklimah, tuwin lampah kulo satindak, mugi Ibu soho Bapak kerso maringi gunging samodra pangaksami, kawulo suwun kaleburono ing dinten riyadi puniko…”

Ketika suatu saat ada peluang, saya coba menggali bagaimana sebenarnya pandangan Ibu tentang tradisi yang kami jalani itu. Hal “sungkem” hariraya yang Ibu tertawa itu, Ibu berkata: “Nak, maaf memaafkan itu kepastian hati setiap manusia hidup. Apalagi pada kita sekeluarga. Kita ucapkan atau tidak, kita sampaikan atau tidak, mustahil kita pernah tidak memaafkan dan tidak minta maaf kalau kita benar-benar bersalah. Maaf memaafkan itu setiap saat, sepanjang waktu, di dunia sampai akherat. Tiap hari adalah Idulfitri bagi kita. Tidak ada hari di mana kita tidak memaafkan di antara kita”

Ibu saya adalah juara minta maaf. Setiap saya sowan kepada beliau dan berniat minta maaf karena banyak hal, begitu mencium tangan beliau, selalu Ibu yang duluan mengucapan  “Sepuroen Ibumu yo Nak, gurung tau iso menuhi kewajiban sing temenan“. Maafkan Ibumu ya Nak, belum pernah mampu memenuhi kewajiban yang seharusnya. Demikian saya dan semua kami 15 bersaudara tidak pernah menang melawan Ibu dalam lomba minta maaf.

Bahkan sejumlah orang di dusun kami yang menyakiti Ibu, termasuk ada yang pernah menghardik Ibu dengan kata “pelacur”, didatangi rumahnya oleh beliau untuk menyatakan minta maaf kepada mereka. Seseorang yang paling dengki dan memusuhi keluarga kami, oleh Ibu malah diminta untuk menjadi Ketua Takmir Masjid di depan rumah kami. Kami ber-15 pecah kepala rasanya oleh kemurahan dan kebijaksanaan radikal Ibu. Dua hari kemudian kami semakin kebingungan, tapi menjadi sedikit agak paham, tatkala “Ketua Takmir Masjid” baru itu dipanggil ke hadirat Allah swt, dalam keadaan yang sangat menyedihkan.

Hal puasa, karena kebetulan itu merupakan naluri dan hobi saya sejak balita, di samping seneng tidur di wuwungan genting atau di dahan pohon, atau duduk-duduk lama di kuburan — saya pernah memancing pandangan Ibu. Beliau menjawab: “Sebenarnya, Nak, yang paling nikmat itu kita berpuasa selama hidup di dunia, harirayanya besok-besok saja di Sorga, mudah-mudahan Pengeran ngijabahi”

Memang beliau keterlaluan puasanya. Tidak pernah punya kerudung atau jilbab, baju dan jarit, lebih dari tiga helai. Kami selalu mengoleh-olehinya bermacam-macam pakaian, tapi besoknya selalu sudah dipakai oleh tetangga sana sini. Ibu rajin keliling kampung bertamu ke penduduk yang miskin, menanyakan bagaimana makan dan pakaian anak-anak mereka, sekolahnya anak-anak mereka dan berbagai keperluan sehari-harinya. Kakak dan adik saya yang mengurusi Sekolah sering mendapat perintah untuk memberi keringanan biaya kepada ini itu. Sekian kali saya diajak bertamu ke rumah gubug tetangga jauh dan minta supaya saya bangunkan rumah meskipun kecil dan sederhana.

Penghuni rumah kami bergelombang keluar masuk antara 30 sd 40 orang. Termasuk Guru-guru Sekolah dan anak-anak yatim. Ayah menyekolahkan mereka, mendirikan rumah-rumah sederhana mereka, dan mengupayakan pekerjaan mereka.

Sebagaimana lazimnya manusia, ada sejumlah anak asuh Ayah Ibu yang berkhianat. Ayah tidak pernah punya tema bahwa ia dikhianati, difitnah, disantet atau dibunuh. Beliau mengerjakan saja yang menurut beliau wajib dikerjakan: membangun Sekolah, Kooperasi Desa, menyediakan fasilitas-fasilitas olahraga, media-media informasi, kesenian Hadrah, drumband dan apa saja yang beliau mampu. Ibu banyak difitnah luar biasa, dan kami memerlukan maraton berpuluh-puluh kilometer untuk sanggup memaafkan — sementara Ibu cukup satu langkah untuk pasti memaafkan siapapun saja yang menganiaya beliau.

Saya menempuh kehidupan dengan sangat dipengaruhi oleh Ibu dan Ayah. Juga kami semua 15 bersaudara. Sejak kecil saya menjalani puasa, di dalam atau di luar Ramadlan, Senin Kamis cara Kanjeng Nabi atau puasa Daud. Bahkan saya memperluas lelaku nilai, prinsip, ilmu dan metoda puasa ke semua ranah kehidupan: sosial budaya, karier, pendidikan, politik dan relatif semua wilayah.

Orang pada naik ke puncak karier, saya tak tahu di mana tangganya. Orang punya profesi, saya sepanjang hidup disuruh-suruh orang, dijadwal orang. Semua berebut kursi, saya bikin bangku sendiri. Orang bersaing memperoleh dan menghimpun harta benda, saya berlaku seperti ikan di laut atau burung di angkasa. Sebagai burung, saya punya sarang, tapi buat masa depan anak-anak. Orang khatam Sekolah, saya dikeluarkan dari semua Sekolah yang saya masuki. Orang berjuang jadi orang besar, saya tetap kecil sampai tua. Orang menjadi, saya tidak menjadi. Orang “to be”, saya gagal bertubi-tubi.

Orang berjuang untuk sukses, saya merahasiakan pendapat saya tentang apa makna sukses. Saya berpuasa dari mengemukakan pendapat. Saya sangat banyak tidak setuju terhadap banyak hal dalam kehidupan manusia. Saya punya pendapat tentang Negara, Pemerintah, rakyat, masyarakat, ideologi-ideologi, juga tentang apa saja — desa dan kota, Mal dan supermarket, internet, teknologi masa datang yang mengancam eksistensi Bank dan membubrahkan konstelasi modal, tentang gadget, medsos, “syariat” Onyx atau Linux sampai Android dan Apple. Pun tentang dunia kuliner, pengajian, tausiyah, Pancasila dan apapun. Tetapi saya berpuasa lebih dari 70% untuk menahan diri dan tidak mengungkapkannya.

Buka puasa sejarah saya hanya kalau saya bisa men’saleh’kannya. Menghitungnya, mensimulasinya, memuhasabahinya, sampai optimis bahwa kemashlahatan ekspressi saya lebih besar dari mudaratnya. Kalau tidak mengamankan dan menyamankan orang lain, kalau tidak merupakan sumbangan terhadap “rahmatan lil’alamin” lebih baik saya simpan seribu kebenaran saya di tabung rahasia.

Yogya 29 Mei 2017.

 Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Sabtu, 27 Mei 2017

Bimbingan Teknik Siskeudes Kec.Kemlagi

Kepala DPMD Kab.Mojokerto Drs. Ardi Sepdianto, M.Si
Sosialisasikan Perbup No.8 Tahun 2017 (foto Lakon Penggoda)
www.kemlagi.desa.id - Bertempat di Gedung Serba Guna Desa Mojojajar Kec.Kemlagi Kab.Mojokerto telah dilaksanakan bimbingan teknik (Bintek) Sistem Pengelolaan Keuangan Desa atau biasa kita kenal dengan Siskeudes.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jum'at, 26 Mei 2017 mulai pukul 09.00 sampai dengan 16.00 WIB dihadiri oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kab.Mojokerto Drs. Ardi Sepdianto, M.Si beserta staf Camat Kemlagi yang diwakili oleh Sekcam Kemlagi Tri Cahyo Hariyanto, S.Sos beserta staf, Kepala Desa se Kec.Kemlagi, PD dan PLD se Kec.Kemlagi serta diikuti oleh PTPKD (Pelaksanan Teknik Pengelolaan Keuangan Desa) se Kec.Kemlagi.

Sekcam Kemlagi Tri Cahyo Hariyanto, S.Sos (pegang mik) saat berikan sambutan
(foto Lakon Penggoda)
PTPKD yang terdiri dari Sekretaris Desa, Bendahara Desa, Pelaksana Bidang Pemerintahan Desa, Pelaksana Bidang Pembangunan, Pelaksanan Bidang Pembinaan Kemasyarakatan dan Pelaksana Bidang Pemberdayaan Masyarakat.

Kegiatan ini difokuskan pada pelaksanaan Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 8 Tahun 2017 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Desa yang merupakan pijakan bagi pemerintah desa untuk mengelola keuangan desa.

Peserta Bintek antusias ikuti kegiatan ini (foto Lakon Penggoda)
Kegundahan Kades dan Perangkat Desa Terjawab.

Kegundahan yang dimaksud adalah tentang bengkok. Karena sesuai ketentuan pasal 100 ayat (3) PP No. 43 Tahun 2014 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 47 Tahun 2015 bahwa tanah bengkok penggunaannya diluar perhitungan 70-30 dari belanja desa dalam APBDes. Maka meskipun bengkok tidak diatur dalam Perbup No. 8 Tahun 2017, maka dalam pelaksanaannya tentang bengkok disesuaikan dengan PP No. 47 Tahun 2015.

Eks bengkok Sekdes yang suatu desa Sekdes-nya dijabat oleh Sekdes PNS, maka bengkok tersebut menjadi Tanah Kas Desa yang penggunaanya disesuaikan dengan Perbup No. 8 Tahun 2017 diprioritaskan untuk pembayaran PBB TKD, tambahan insentif RT/RW, jaminan kesehatan Kades dan Perangkat Desa serta untuk pemberian tali asih/cinderamata purna tugas Kades dan Perangkat Desa.

Penggunaan Dana Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah khususnya untuk buku 4 dan 5, maka digunakan untuk menunjang biaya operasional penyelenggaraan pemerintahan desa.

Peserta ikuti kegiatan sampai selesai (foto PTPKD Desa Kemlagi)
Desa yang membentuk dana cadangan, maka dana cadangan tersebut disimpan dalam rekening desa tersendiri diluar rekening yang selama ini ada. Pembentukan dana cadangan ini tata caranya disesuaikan dengan pasal 19 Permendagri No.113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa, serta untuk besaran dana purna tugas untuk Kades dan Perangkat Desa mengacu pada Pasal 87 ayat (5) Peraturan Daerah Kabupaten Mojokerto Nomor 1 Tahun 2015 tentang Kepala Desa dan Pasal 13 ayat (1) Peraturan Bupati Mojokerto Nomor 58 Tahun 2015 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Perangkat Desa.

Tindaklanjut Bintek Siskeudes

Kegiatan yang hanya berlangsung selama sehari ini, belum bisa menyelesaikan atau menjawab semua pokok bahasan Sistem Keuangan Desa. Maka untuk lebih memberikan SDM yang mumpuni khususnya bagi operator Siskeudes, diharapkan nantinya untuk operator Desa Kemlagi, Desa Mojodadi dan Desa Mojokusumo akan diberikan pelatihan tersendiri oleh DPMD Kab.Mojokerto sampai tuntas dan selesai. Kemudian operator ketiga desa ini bisa memberikan ilmu yang didapat kepada operator lainya di wilayah Kecamatan Kemlagi.

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Rabu, 24 Mei 2017

Pesan KH. Dimyati Romli : Ilmu Yang Barokah dan Dicintai Semua Orang

KH Dimyati Romli
www.kemlagi.desa.id - KH Dimyathi Romly yang belum lama ini wafat. Yai Dim adalah mursyid tarekat dan pengasuh pondok pesantren Darul Ulum, Rejoso, Peterongan Jombang.

"Tak dungakno santri Darul Ulum ilmune barokah. Tak dungakno santri Darul Ulum dicintai semua orang".

Begitu doa dan sekaligus pesan Yai Dim, sang Mursyid, yang dilangitkan tembus ke Arasy ilahi. Apa gerangan maksud beliau? Ijinkan saya memberi syarh atas doa beliau di atas.

Pertama, soal keberkahan ilmu.

Ada suatu negeri yang tanahnya begitu subur dan kekayaan alamnya begitu makmur, namun penduduknya begitu asyik bedebat pada persoalan halal-haram belaka. Dari mulai bangun pagi beranjak dari kasur, terus kumur-kumur sampai pergi ke dapur dan makan bubur yang dibahas soal bid'ah, sedekah, konflik timur tengah, jilbab merah sampai soal bibir merekah.

Negeri itu dipenuhi dengan para ahli agama, dimana-mana selalu ada tempat untuk membelah ayat dan hadis dengan tak kenal lelah. Tapi anehnya di negeri itu para bedebah tetap bertambah. Di tv, radio, koran sampai media sosial para ahli agama disediakan panggung untuk berkhutbah, dan semakin banyak ayat dan hadis yang mengalir bak air bah, semakin merambah kepopuleran sang da'i hingga honornya pun sekali bicara melebihi honor para ilmuwan yang sibuk mengeja huruf, angka dan rumus demi membuat satu makalah, atau para Kiai yang tekun mengajarkan kitab kuning kepada para santri.

Rejeki anda kurang mujur, tanya sama Kanjeng Dimas. Bagaimana menyetop lumpur, tanya sama Aa Gatot. Masalah kubur, jangan lupa tanya sama Ustad Mansur. Ribut- ribut soal rumah tangga dan kasur, tanya sama ustad Guntur. Masalah politik bubur, juga dibahas oleh khatib yang ngelindur tanpa sadar jamaahnya asyik tidur.

Itulah negeri yang lebih menghormati masalah halal-haram ketimbang melahirkan para saintis. Produksi buku agama jauh melebihi buku sains. Pagi sore, siang malam dimana-mana ada ceramah, sementara ilmuwan terseok-seok mencari jawaban di balik debu tumpukan buku, atau sinar laser.

Di tengah kondisi seperti ini, Yai Dim malah mendoakan keberkahan ilmu. Beliau tidak mendoakan agar para santri menjadi orang terkenal, atau orang yang merasa paling pintar bisa menjawab semua persoalan, atau menjadi ustad seleb yang tampil di tv dan medsos. Yang beliau doakan adalah keberkahan ilmu. Subhanallah! Inilah kunci pertama dari yang beliau ajarkan kepada kita semua.

Di balik petikan doa “Rabbi Zidni 'Ilman” (Tuhanku, tambahkan untukku ilmu pengetahuan), tersembunyi nilai-nilai dasar seorang ilmuwan, yaitu tidak pernah merasa cukup dengan apa yang diketahuinya, terbuka dengan gagasan dan ide baru, menerima kritik dan masukan serta selalu ingin mencari tambahan pengetahuan dari siapapun dan manapun. Siapa yang merasa kurang, maka akan Allah tambahkan. Siapa yang sudah merasa cukup, maka tidak akan dapat tambahan lagi, malah bisa jatuh pada kesombongan. Ilmuwan sejatinya harus selalu meneliti. Tugas ilmuwan untuk selalu memecahkan persoalan-persoalan baru dengan jawaban yang cerdas dan ber-nash.

Pada saat yang sama, Allah menjelaskan tanda-tanda keagunganNya, bukan hanya lewat ayat yang terwahyukan dalam kitab suci, namun juga apa yang terbentangkan di alam semesta. Kita diperintahkan untuk membaca tanda atau ayat tersebut. Sayang, banyak yang meributkan tanda baca ketimbang benar-benar membaca. Ada pula yang memaksa menjadikan caranya membaca sebagai satu-satunya bacaan yang sahih. Banyak pula yang sibuk mengeja huruf dan rumus dengan fasih ketimbang menggali makna ilmu.

Saya membaca keterangan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya bahwa Syekh Abu al-Hasan mimpi bertemu Nabi SAW dan bertanya, "apa sebab Imam Syafi'i mendapatkan kedudukan mulia?" Rasul menjawab: "Imam Syafi'i akan masuk surga tanpa hisab karena berkah shalawat yang ditulisnya dalam kitab al-Risalah: wa shalli Allahumma 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kullama dzakarahu al-dzakiruna wa ghafala 'an dzikirihil ghafiluna." Ini contoh ulama yang ilmunya barakah dunia - akherat. Yai Dim mendoakan para santri untuk memiliki keberkahan ilmu, apapun ilmu yang dipelajari.

Kedua, soal dicintai semua orang.

Salah satu ciri orang yang ilmunya berkah adalah dicintai semua orang. Ini karena ilmunya bermanfaat. Dengan cara kita masing-masing, kita berusaha membalas cinta Tuhan kepada kita. Ada yang mengurung diri seharian dalam perpustakaan menelaah lembar demi lembar untuk kemudian menuliskannya dan berbagi untuk sesama; ada yang mengurung diri dalam khalwat bersamaNya melantunkan kalimat yang haq dan suci, sehingga cahaya keberkahan menyinari masyarakat sekitarnya; ada yang mengurung diri seharian di kantor, karena percaya bekerja adalah bagian dari ibadah; dan ada pula yang sibuk menyentuh hati mereka yang gundah, memberi makan perut yang lapar, memberi pakaian pada tubuh yang polos maupun memberi motivasi menggapai masa depan yang lebih baik agar mereka yang tengah berduka tidak berputus asa dari rahmatNya.

“Tuhan, cintaMu tak terbatas, meski kami sering lupa membalasnya. KasihMu menembus batas-batas praduga dan asumsi kami. Setiap cinta yang kami kirimkan untukMu, selalu Kau pantulkan kembali untuk kami agar kami terus bisa berkhidmat pada sesama hambaMu, sebagai mansifestasi cinta kepadaMu”.

Inilah kunci kedua yang diajarkan Yai Dim lewat doanya di atas: cinta. Ini sesuai dengan do'a yang diajarkan Rasulullah SAW. Allahumma inni as aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa hubba kulli 'amalin yuqarribuna ila hubbika.

Ada orang yang menjaga dzikir dan wiridnya. Namun kita tidak melihat orang tersebut memiliki berbagai karamah atau tanda-tanda sebagai orang arifin. Akan tetapi Ibn Athailah dalam al-Hikam menasehati kita untuk tidak meremehkan orang tersebut karena kita tidak pernah tahu apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya.

Ada pula golongan kedua yaitu orang yang berkhidmat kepada Allah --apapun profesinya. Ada yang berkhidmat lewat ilmunya, ada yang mengabdi pada Allah lewat tenaganya, hartanya, bahkan ada pula yang mengorbankan dirinya. Semuanya berkhidmat di jalan Allah.

Ada pula golongan yang Allah khususkan yaitu mereka yang mencintaiNya. Mereka yang sudah tidak menghiraukan keadaan dirinya demi mencintai Allah SWT. Kesenangan dan keinginan diri mereka telah hilang dalam mahabbah denganNya. Merekalah para tetamu di rumah Allah yang di dalamnya tidak ada apapun kecuali Allah sendiri. Merekalah yang menikmati jamuan ilahi. Merekalah para kekasih Allah.

Ibn Athailah kemudian mengingatkan kita lagi dengan mengutip QS al-Isra ayat 20 bahwa semua golongan ini -- baik mereka yang senantiasa berdzikir, mereka yang berkhidmat dan mereka yang mencintaiNya -- masing-masing akan mendapat karunia Allah yang tidak terbatas.

Apa yang dijelaskan Ibn Athaillah di atas disederhanakan Kiai Dimyathi Romly dalam doa beliau. Yai Dim telah mengajarkan kepada kita dua kunci yang begitu sederhana tapi amat sangat dalam: barakah dan cinta.

Sebagai Mursyid yang turun langsung ke dalam dunia politik dan pendidikan, beliau terus menebar keberkahan dan cinta kepada semua yang ditemuinya, dimanapun beliau jumpai. Beliau bukan sosok sufi yang tidak terjangkau umat. Beliau bukan sosok Kiai yang ditakuti. Beliau memandang umat dengan pandangan cinta. Beliau memantulkan keberkahan dari Allah ke penjuru dunia. Kepergian beliau adalah sebuah duka. Namun keberkahan dan cinta --dua kunci yang beliau ajarkan harus terus kita gelorakan. Al-Fatihah!

oleh : Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Senin, 22 Mei 2017

Usulan Ketua Parade Nusantara Terkait Dana Desa, Kepala Desa dan KPK

Sudir Santoso - Ketua Parade Nusantara
www.kemlagi.desa.id - Bapak Presiden RI Yth ..........
Ijinkanlah saya sebagai rakyat jelata memberi , saran , pandangan dan pendapat kepada bapak dg harapan bapak merasa lebih ringan menjalankan roda kepemimpinan Negara .
Baca juga Presiden ajak KPK awasi Dana Desa

Seingat & sepengetahuan saya , KPK didiŕikan sebagai instrumen Lembaga Yudikatif yang bersifat Adhoc ( Sementera ) . Untuk memperkuat kinerja Polri , Kejaksaan dan Kehakiman yang mengalami Dish trust (kurang / kehilangan kepercayaan dalam melaksanakan tugasnya dalam penegakan hukum ), maka dibentuklah KPK untuk memperkuat Law Imphosmant , yang dikususkan menangani extra ondernering Crime ( Tidak kèjahatan yang luar biasa / menonjol ) seperti tindak pidana Korupsi dalam skala besar yg telah mendarah daging , mengurat mengakar sampai menembus tulang sungsum sendi2 kehidupan berbangsa dan bernegara kita .

Jika KPK harus bapak tugaskan sampai ke Desa- Desa untuk mengawal , mengawasi penģgunaan Dana Desa dan menindak pengkoeup Dana Desa , berapa banyak pegawai KPK yang ada saat ini , untuk menjangkau lebih dari 73.000 Desa si Negeri ini ? .
Sekedar saran .......apa tidak sebaiknya dipertajam Inspektorat Kabupaten , Polres dan Kejaksaan Negeri di masing2 Kabupaten ?.

Sepanjang yang saya ketahui aparat Kepolisian ditingkat Polres sangat banyak yang belum faham tentang masalah UUDesa utamanya prosesuÅ• penggunaan Dana Desa. 
Demikian personil Kejaksaan Negeri yang ada di tingkat Kabupaten .
Bagaimana bisa mengawasi dan menindak pelanggaran penggunaan Dana Desa jika tidak faham prosedurnya ? .

Yang ada adalah banyak oknum Kepolisian dan kejaksaan yang menjadi tukang palak jika sedang menangani laporan penyelewengan Dana Desa yg dilakukan Kepala Desa .

Apa tidak sebaiknya bapak Presiden memerintahkan kepada Kementerian terkait , untuk memperkuat SDM ( Sumber Daya Manusia ) BPD ( Badan Permusyawaratan Desa ) agar tidak hanya sebagai alat legitimasi Pemerintah Desa .

Apa tidak sebaiknya ditumbuh kembangkam Wasmas ( Pengawasan Masyarakat ) dari masing2 Desa ? .

Jika KPK harus diterjunkan ke Desa-Desa , apa tidak mengganggu kelancaran penanganan kasus-kasus besar seperti kasus BLBI , Hambalang , E-KTP , dan kasus2 besar lainya yg belum tuntas / belum jalan ? .

Demikian masukan , saran , pandangan dan pendapat saya sebagai rakyat jelata kepada Bapak Presiden RI .

Semoga bapak Presiden dapat menjalankan tugasnya sebagai kepàla Negara dengan sukses tanpa èksès sampai dengan paripurna , salam .

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Sabtu, 20 Mei 2017

Jokowi Berencana Ajak KPK Blusukan Cek Penggunaan Dana Desa

Presiden RI Joko Widodo, turun ke sawah berlumpur untuk menanam padi dengan menggunakan rice transplanter hasil produksi dalam negeri. Presiden didampingi Menteri Pertanian, Amran Sulaiman dan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.
www.kemlagi.desa.id - Presiden Joko Widodo berencana mengajak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) blusukan ke daerah untuk mengecek penggunaan dana desa.

"Nanti (saya) ke desa bapak-bapak ini tidak sendirian lho. Saya ajak KPK," ujar Jokowi saat membuka Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah Tahun 2017 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (18/5/2017).

Peserta Rakornas Pengawasan Intern Pemerintah tersebut banyak dihadiri oleh kepala daerah maupun kepala desa.

Acara itu juga dihadiri oleh beberapa menteri kabinet kerja dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) Alexander Marwata.


Pernyataan Presiden tersebut terlontar ketika ia berdialog dengan dua kepala desa yaitu Sugeng yang menjabat sebagai kepala desa dari Kabupaten Boyolali dan Kadiman kepala desa dari Kabupaten Kapuas.

Sugeng yang terlebih dahulu ditanya Presiden Jokowi menjelaskan bagaimana dirinya menerapkan Sistem Keuangan Desa (SisKeuDes).

"Alhamdulillah untuk kabupaten Boyolali kami di tahun 2016 dan 2017 sudah memakai aplikasi SesKeuDes dan di sini perlu kami ceritakan sedikit, dengan sistem aplikasi SisKeuDes baik pengawasan maupun untuk pencegahan daripada korupsi Insya Allah minim," ujar Sugeng.

Sugeng mengatakan segala prosedur penggunaan dana desa harus melalui bank dan tidak menggunakan uang tunai untuk melaksanakan program pembangunan.

"Jadi masuk rekening desa terlebih dulu, setelah itu nanti direalisasi, andaikata kita belanja barang, langsung si pembelanja barang harus juga serta merta punya rekening di dalam bank yang sama kemudian langsung direalisasikan di hari itu juga, dibelanjakan via rekening," kata Sugeng.

Senada dengan Sugeng, Kadiman menjelaskan bagaimana ia menggunakan aplikasi SisKeuDes dalam rangka menggunakan dana desa dengan optimal.

Bahkan, baik Sugeng maupun Kadiman, keduanya mengaku selalu memaparkan dana desa yang diterima dan penggunaannya kepada publik, sehingga publik mengetahui untuk apa saja dana itu dikeluarkan.

Presiden Jokowi pun mengapresiasi penjelasan keduanya.

"Keliatannya yakin. Dari ngomongnya tuh kelihatan, siap atau enggak siap kelihatan. kalau agak grogi malah tak cek nanti. Tapi kan ini tidak grogi," tutur Jokowi.

Jumat, 19 Mei 2017

26 Ribu Keping KTP-eL Datang, Dispenduk Prioritaskan Perekaman Tahun 2016

ilustrasi e-KTP

www.kemlagi.desa.id - Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kabupaten Mojokerto kembali mendapat kiriman blanko KTP-eL. Kalau sebelumnya 10 ribu keeping, kali ini ditambah 26 ribu keeping. 

Bambang Eko Wahyudi - Kepala Dispendukcapil Kabupaten Mojokerto, Kamis (18/05/2017) mengatakan, Blanko KTP-eL ini tetap diprioritaskan, untuk masyarakat yang status perekamannya Print Ready Record (PRR). “Saat ini yang sudah PRR sekitar 35 ribu orang”, kata Bambang.

Bambang juga menjelaskan, masyarakat yang sudah perekaman di tahun 2016 sampai akhir November dan statusnya sudah PRR, maka bisa mengambil KTP-eL nya di Dispenduk. “Tim kita juga sudah sosialisasi ke Desa-desa”, imbuhnya.

Sementara itu, untuk perekaman baru, perubahan data, kartu hilang atau rusak, tetap akan dilayani oleh Dispendukcapil Kabupaten Mojokerto dengan Surat Keterangan.