Rabu, 21 Juni 2017

Bisakah Desa Membangun BUMDesa Raksasa, Bisa dan Begini Salah-satu Caranya

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id – Mampukah warga desa membangun BUMDesa besar meraksasa? Jika ya, seperti apa contohnya dan apakah mampu membangun BUMDesa besar di wilayah desa yang tak punya banyak potensi?

Mari berhitung dari dasar. Berapa jumlah penduduk desa Anda lalu coba hitung berapa kilogram beras yang dikonsumsi dalam satu hari untuk satu orang dengan perbandingan seperti anak keciil, orang dewasa dan sebagainya. Lalu kalikan seluruh warga desa.

Lakukan hal yang sama pada kebutuhan lain seperti sabun, minyak goreng, telur, daging dan kebutuhan lainnya. Bayangkan jika semua kebutuhan itu bisa dipenuhi oleh minimarket milik BUMDesa? Bayangkan pula jika minimarket itu menggantikan berbagai produk buatan pabrik dengan produk buatan warga desa seperti makanan kecil, air kemasan bahkan minyak goreng dan terus berkembang hingga sabun, shampo dan lain-lain.

Apakah yang merisaukan Anda jika menggunakan shampo yang bukan buatan pabrik? Memangnya Anda tahu apa saja bahan yang digunakan untuk membuat produk-produk pabrikan itu? Pernahkah Anda bayangkan bahwa sebenarnya ada banyak bahan berbahaya yang terkandung dalam makanan, minuman bahkan shampo yang Anda gunakan? Bagaimana dengan produk lokal.

Produk lokal sangat memungkinkan bagi semua orang untuk mengetahui kandungan yang ada dalam bahan makanan, minuman atau bahan lain seperti minyak goreng dan sebagainya. Saat ini ada banyak kampus perguruan tinggi yang siap membantu UMKM dan produsen di pedesaan untuk bisa menciptakan produk yang higienis, murah dan bisa dikemas dengan indah sebagaimana produk pabrikan.

Bayangkan jika seluruh desa di Indonesia melakukan ini, betapa besar uang yang akan beredar di desa karena uang itu tidak akan pernah kemana-mana melainkan dari Anda masuk ke toko yang keuntungannya membiayai berbagai kebutuhan sosial. Hebatnya lagi produsennya tidak lain dan tidak bukan adalah tetangga Anda sendiri. Kalau tak percaya,

Maka yang kemudian bakal terjadi adalah bakal lahir BUMDesa mendirikan pabrik minyak goreng, memproduksi sabun mandi dan sebagainya. Muncul pula pasar sayur-mayur sehat antardesa. Warga desa benar-benar mampu memenuhi sebagian besar kebutuhannya dengan produk yang dihasilkannya sendiri. Jika desa Anda tidak mampu menghasilkan beras, Anda tinggal impor dari desa sebelah.

Jika desa sebelah tidak punya produk buah-buahan, tinggal ‘calling’ ke minimarket di desa Anda. Warung-warung kecil di seluruh penjuru desa bisa ‘kulakan’ ke minimarket desa yang berfungsi sebagai grosir dan mendapatkan harga yang jauh lebih murah dari produk yang selama ini mereka beli di kota.

Dengan cara ini maka uang warga desa tidak akan kemana-mana. Sebaliknya, mereka bakal mendapatkan uang dari hasil penjualan berbagai produk desa ke kota. Maka desa bakal menjelma sebagai kekuatan desa baru. Karena sesungguhnya, peningkatan kesejahteraan tidak identik dengan peningkatan penghasilan tetapi lebih pada bagaimana cara Anda membelanjakan uang yang Anda miliki. Kalau beragam kebutuhan bisa dibeli dengan murah, bukankah bakal banyak uang tersimpan. Pola ini juga bakal segera membuka begitu banyak peluang produksi untuk memenuhi kebutuhan antarwarga. Maka,  terciptalah raksasa BUMDesa!

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Selasa, 20 Juni 2017

WAITING FOR THE BLANGGUR - Ngabuburit anak jaman dulu

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id - Catatan ini kami share dari sebuah akun FB Serpihan Catatan Ayuhanafiq Sore itu, seperti juga sore lainnya saat puasa, kami anak-anak kampung nongkrong di tepi jalan. Jalur penghubung transportasi ke ibu kota kabupaten yang masih berupa jalan makadam. Ya, kegiatan yang sekarang dikenal dengan ngabuburit, dulu kami sebut golek/mencari maghrib. Satu tanda maghrib senantiasa kami tunggu dari arah kota.

Hidup di desa yang jaraknya sekitar 20 kilo dari pusat kota tentu jarang melihat keramaian. Maklum, tidak setiap hari dan tidak semua orang bisa pergi melihat riuhnya kota dengan kabel Aniem menjulur sepenjang jalan. Setiap hari kita hanya tahu sawah, kebun, kali dan pepohonan yang bisa dinikmati. Kegiatan lungo masih menjadi sebuah kemewahan, bahkan sekedar datang ke pasar kecamatan terhitung jarang.

Bulan puasa, hari-hari kami menjadi beda. Aktivitas harian menjadi berkurang. Petani pulang lebih pagi dari sawahnya untuk menghindari sengatan matahari yang bisa menguras energi. Siang hari menjadi sepi, teman sepermainan seolah menghilang semua. Jika tidak puasa pada siang itu biasanya anak kampung berkumpul pada halaman luas dan rindang untuk bermain bersama. Keceriaan bermain siang hari berganti dengan tidur bersama di langgar kampung.

Usai ashar, baru kehidupan berputar kembali. Teman-teman berpencar meninggalkan langgar panggung. Tujuannya ke sawah atau ke kebun untuk mencari buah yang bisa dibawa pulang. Bisa jambu, juwet atau buah liar lainnya yang tidak dirawat khusus oleh pemiliknya. Di sawah ada buah ciplukan dan tidak jarang ngasak sisa umbi yang masih tertinggal usai di panen. Segala makanan itu akan menjadi santapan pelengkap buka puasa. Kalo saja tidak puasa mungkin mencuri tebu lebih asyik dilakukan. Tebu yang sudah dikupas dan direndam air es akan terasa nikmat. Sayangnya, kata guru ngaji, puasa gak boleh mencuri.

Golek maghrib dijalani bareng setelah mandi. Kostum yang dipakai baju harian dengan sarung dilengkapi kopyah di kepala. Tempat favorit untuk menunggu maghrib, ada di bawah pohon termbesi di tepi kali yang mengalir sepanjang jalan makadam. Tidak banyak bicara diantara kita.Beberapa orang melintas dengan mengayuh sepeda, lebih banyak yang lewat jalan kaki. Jika ada orang kenal melintas maka akan terjadi tegur sapa, "golek maghrib rek?" kata yang kerap kita terima. "Nggeh, wak.." jawaban kita dengan nada koor.

Kalo kita tidak banyak bicara, itu bukan berarti kita gak kuat lagi bicara karena kehabusan tenaga, tidak. Kita memang semgaja mencari suasana hening untuk menunggu suara yang kadang-kadang satup mampir ke telinga. Kenapa kita berkumpul di jalanan, tempat terbuka? Itu karena bisa tidak terdengar suaranya bila ada di ruang tertutup, terhalang dinding. Suara itu merupakan penanda waktu kita mengakhiri puasa. Setiap sore kita menunggu suara mercon atau mungkin suara ledakan bom yang kita sebut blanggur. Saking konsentrasinya mendeteksi suara blanggur, bila ada teman yang mengajak bicara maka akan diperingatkan. We are waiting for the blanggur.

Duuuummmm......suara itu kami dengar, segera kami berlomba lari menuju rumah masing-masing. Saat berlari itu tidak jarang kita teriak, "buko...bukoooo..!!" Maka orang yang mendengar teriakan kami masuk ke rumah untuk membatalkan puasanya. Buka puasa dilakukan setelah ada suara blanggur.

Pada sore lainnya, kegiatan kumpul golek maghrib dilakukan. Kita, anak desa tidak pernah tahu apa dan bagaiman bentuk blanggur itu. Cerita tengtang blanggur kita dapat dari orang tua yang pernah ke kota. Menurutnya, blanggur itu bom yang ditembakkan saat waktu maghrib. Lokasinya di alun-alun depan masjid Agung Kabupaten. Bom blanggur itu ledakkan untuk memberi tahu sudah waktunya berbuka.

Nama blanggur muncul dari dua suku kata, Blang dan gur. Istilah yang diambil dari "blang", suara ledakan di udara dan disusul oleh resonansi seperti suara guruh, gur-gur-gur. Bunyi gemuruh itu hasil resonansi suara ledakan. Bahan peledak sebesar kelapa dimasukkan dalam alat pelontar yang akan melemparnya ke udara. Ledakan di udara itulah yang disebut blanggur.

Ternyata keberadaan Blanggur bukan hanya di Mojokerto, semua masjid agung kabupaten melakukan hal yang sama. Ternyata keberadaan blanggur itu memang atas perintah komandannya para tentara. Perintah yang ditindaklanjuti oleh bawahannya ditingkat kabupaten. Seorang petugas dari masjid akan memberi tahu pada se-regu tentara yang telah siap dengan blanggur. Karena berbentuk bahan peledak yang dibinyikan dengan cara tertentu maka butuh orang yang ahli.

Ritual peledakan blanggur itu menjadi tontonan warga kota. Berbeda dengan di desa, orang kota datang dan berkumpul di alun-alun. Saat blanggur diledakkan, semua orang menutup rapat telinganya. Suara yang di desa terdengar merdu, di kota pasti memekakkan gendang telinga. Begitu cerita orang desa yang pernah ke kota saat membagi pengalamannya. Lalu suara blanggur membuyarkan dia bercerita. Lalu kita semua lari sambil teriak, "bukoooo...bukoooo...".

Sampai sekarang setelah menua, saya belum tahu bagaimana wujud blanggur itu. Apakah mirip dengan mercon yang menyisakan serpihan kertas setelah ledakan terjadi, atau bagaimana ? Mungin tidak penting mengetahui seperti apa bentuknya karena yang kita butuhkan adalah suara blanggur itu. Dan dengan setia menunggu datangnya suara blanggur.

Inilah yang Membuat Desa Kesulitan Mengembangkan BUMDes

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id – Apa yang membuat banyak desa di berbagai pelosok di Indonesia kesulitan mengembangkan BUMDesa, salah-satunya karena para pemuda desa tidak dilibatkan dalam diskusi sejak awal. Celakanya, ketika penyusunan pengurus BUMDesa, yang dipasang adalah warga desa golongan tua yang sudah tidak memungkinkan melakukan inovasi manajemen usaha.  

Parahnya lagi, setelah memilih struktur, posisi-posisi penting operasional BUMDesa lagi-lagi ditempati orang-orang tertentu yang sama sekali tidak punya kemampuan mengembangkan usaha. Akibatnya gampang ditebak, BUMDesa langsung loyo dari bulan pertama beroperasi. Padahal sesungguhnya anak muda desa-lah yang memiliki kemampuan mengembangkan usaha BUMDesa.

Pemahaman para perangkat desa mengenai BUMDesa sendiri juga masih berkutat pada wilayah desanya saja. Sehingga BUMDesa terjebak pada skala usaha yang besarannya sesuai daya beli warga desa. Situasi seperti ini-lah yang membuat BUMDesa kesulitan meningkatkan pendapatannya. Tetapi yang paling parah adalah ada banyak kepala desa merasa kehadiran BUMDesa malah dianggap beban bagi pemerintahan desa.

Padahal sesungguhnya BUMDesa memiliki kekuatan besar untuk menciptakan lompatan ekonomi bagi kesejahteraan desa jika dimanfaatkan dengan baik oleh anak-anak muda desa. Hanya saja, banyak pula kepala desa yang belum mengakui besarnya potensi desanya sendiri. Banyak kepala desa yang ‘tidak rela’ jika modal BUMDesa yang diguyurkan pemerintah diberikan pada anak-anak muda untuk mengelolanya. Apa pasal?

Secara sosial sebagian besar desa di Indonesia menganggap kepala desa adalah seorang warga yang memiliki kekuasaan yang begitu luas. Akibatnya kepala desa merasa dirinyalah orang yang paling tahu bagaimana mengorganisasikan desa termasuk proses pengembangan BUMDesa. Padahal, kepala desa selama ini lebih identik dengan pekerjaan seremonial dan administrasi. Sikap diri merasa paling berkuasa ini justru bisa menjadi salah-satu pemicu utama kegagalan BUMDesa itu sendiri.

Di kalangan anak muda, kesenjangan kekuasaan yang cenderung dikuasai golongan masyarakat usia sepuh itu membuat mereka semakin jauh pada urusan desa. Anak muda juga lebih tertarik pergi ke kota mencari pekerjaan. Tawaran BUMDesa sama sekali tidak menarik bagi sebagian besar mereka.

Sudah saatnya anak muda berpikir ulang mengenai desa. Saat ini hidup di desa tidaklah seterpencil dahulu kala. Hidup di desa kini juga sama dengan kota karena semua orang bisa mengakses internet dari manapun. Sebaliknya, kemampuan menggunakan teknologi internet seperti ini hanya dikuasai anak muda.

Nah, sudah saatnya anak muda sekarang ini memilih desanya sebagai alternatif membangun masa depan. Soalnya, sekarang ini ada banyak aktivitas kerja yang bisa dilakukan semua orang dari desa. Juga, semakin abai anak-anak muda pada desanya maka semakin jauh pula desanya dari kemajuan.

JIka saja sekelompok anak muda berani memilih untuk tinggal dan berkarya di desa dengan menggunakan internet sebagai media pengembangan jiwa wirausaha mereka. Termasuk mengelola BUMDesa-nya.  Maka, bukan tidak mungkin, perubahan bakal terjadi bukan hanya pada kehidupan ekonomi mereka saja melainkan juga bakal mempengaruhi peri kehidupan seluruh warga desanya. Seperti kata filosof hebat dari Yunani ribuan tahun lalu,” Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku rubah dunia”.

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Senin, 19 Juni 2017

Dari Desa dan Untuk Desa

ilustrasi
www.kemlagi.desa.id - Tulisan ini adalah buah pikiran Sudir Santoso, Ketua Parade Nusantara (Persatuan Rakyat Desa Nusantara) Pusat, salah satu komponen penggagas lahirnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.

Ada dua (2) tujuan utama pada saat kita sama-sama menggagas dan menginisiasi lahirnya Undang-Undang Desa:

I. Desa Berdikari Dalam Bidang Ekonomi

Meskipun setelah lahirnya UU Desa, penggunaan Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) setiap tahun anggaran saat ini lebih diprioritaskan pada pembangunan fisik / Infrastruktur Pedesaan, masih sangat minim yang dialokasikan untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat Desa melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).Hal ini tidak terlalu menjadi masalah jika menggunakan dalih dan alasan skala prioritas.

Sebagai penggagas lahirnya UU Desa, saya cukup faham dan bisa mengerti, karena saya juga memahami bahwa setelah 5 sd 10 tahun kedepan, Dana Desa tidak akan dapat terserap lagi untuk pembangunan fisik / infrastruktur Desa karena semua jenis pembangunan fisik Desa sudah terbangun.

Jika Dana Desa dan ADD sudah tidak terserap lagi untuk pembangunan fisik Desa , apakah harus dikembalikan kepada kas Negara ?, jika itu terjadi alangkah naif dan bodohnya para Aparatur Pèmerintah Desa.

Maka jalan kèluar untuk jawaban masalah tersebut sudah kita siapkan didalam Bab X UU Desa yaitu bab yang mengatur tentang BUMDes sebagai penampung berapapun dana DD & ADD yang sudah tidak lagi terserap untuk biaya pembangunan fisik Desa, sisa keseluruhanya dapat untuk penambahan penyertaan modal BUMDes.

Itulah sebabnya jauh sebelum Kemendes hiruk pikuk berbicara dan menyadari pentingnya keberadaan BUMDès disetiap Pemerintahan Desa, saya selalu mengingatkan keberadaan BUMDes.
Sebelum lahirnya UU Desa, rata-rata desa di Indonesia mendapat stigma bahwa desa ditempatkan sebatas :

  1. Penyadia row material (bahan baku mentah) yang harganya murah; dan
  2. Penyedia man power (tenaga kerja) yang berupah rendah .
Dari kedua stigma tersebut diatas maka keberadaan BUMDes menjadi sangat penting, agar melalui BUMDes masyarakat desa dapat mengolah bahan baku mentah (segala jenis hasil panen) untuk meningkatkan nilai tambah.

Sehingga dalam putaran roda ekonomi masyarakat desa tidak terus dijadikan OBYEK, tetapi dapat menjadi SUBYEK ekonomi, minimal sebagai mitra kerja yang setara dan berkeadilan dari para pelaku pabrikan / korporasi besar.

Oleh karenanya hakekat keberadaan BUMDes, adalah sebagai pintu gerbang kebangkitan ekonomi masyarakat Desa.

Tetapi saat ini terjadi fenomena yang membuat saya miris, dimana banyak pihak yang terlalu sangat berharap BUMDes-nya cepat besar, sehingga mengambil jalan pintas dan potong kompas dengan melakukan kerja sama dengan korporasi besar. Jika demikian adanya ujungnya pasti BUMDes hanya akan menjadi pelayan dan tenaga marketing korporasi besar (menjadi kuli dirumah sendiri).

Perlu ada tahapan dan sikap kehati-hatian dalam mendirikan dan pengelolaan BUMDes, bukan sekedar sulapan agar kelihatan hebat dan cepat besar tetapi rapuh daya tahanya.

II. Menuju Kedaulatan Politik Masyarakat Desa Indonesia

Untuk masalah kedaulatan Politik masyarakat Desa Indonesia kita akan kupas tuntas dan bahas habis pada tulisan selanjutnya.

Salam (Semar Bodronoyo / Parade Nusantara)

Sumber https://www.facebook.com/semarbodronoyo.paradenusantara
Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Sabtu, 17 Juni 2017

Sosok Inspirasi : Warga Desa Yang Mendunia

Risa Maharani (berbaju merah)
www.kemlagi.desa.id - Pelajar berusia 17 tahun ini adalah siswa SMK NU Banat, Kudus, Jawa Tengah. Dia adalah Risa Maharani, arek asli Desa Terusan Kecamatan Gedeg Kab. Mojokerto - Jawa Timur kini karya-karyanya sudah dikenal di beberapa negara, meliputi Hongkong, Australia dan Timur Tengah. 

Bahkan bersama teman satu sekolahnya, Rania. Keduanya terpilih menjadi desainer produk Zelmira dan pernah mengikuti fashion show di Hongkong. Kini buyer mereka berasal dari beberapa negara, meliputi Hongkong, Australia dan Timur Tengah.

"Jadi Zelmira itu kita dibimbing sama Indonesian Fashion Chamber, ada pemilihan untuk dipilih menjadi desainer mereka. Kita ada pemilihan desainer di sekolah, kami dites mendesain dan berkreasi, akhirnya dipilihlah kami," papar Risa.

Zelmira sendiri berusaha menghidupkan kembali budaya lokal, terutama Kudus dalam tiap produknya. "Kami ingin mengangkat budaya lokal Kudus, lalu ada bordir dan batik Kudus," kata Rania.

Menarik bukan cerita desainer baju muslim ini? Ikuti rekaman video perbincangan Yovie Widianto bersama empat desainer busana muslim Indonesia dalam program TV IDEnesia METRO TV,  Kamis, 14 Juni 2017, pukul 21.05 WIB.

Sumber http://metrotvnews.com/ , https://www.youtube.com/
Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi


Jumat, 16 Juni 2017

Cerita Indah Sang Relawan

Relawan ILM Saat Menolong Korban Meninggal Dunia
www.kemlagi.desa.id – Jaman sekarang ini media sosial sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan bahkan menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, baik itu berupa facebook, twitter, instragram, whatsapp dan sebagainya. Banyak sekali manfaat yang dapat kita peroleh dengan media sosial ini, namun tidak jarang juga media sosial dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik.

Kali ini Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi mem-posting manfaat media sosial dalam menunjang kegiatan kemanusiaan - menolong korban kecelakaan dari sebuah grup facebook, yakni sebuah grup media sosial yang diberi nama Info Lantas Mojokerto (ILM). Ternyata grup ini juga bergerak dibidang kemanusiaan lainnya, misalnya mambantu korban bencana alam, memberikan info tentang adanya kecelakaan/kejadian di suatu daerah, membagikan takjil dan sebagainya.

Dua sosok relawan yang diangkat dalam tulisan ini yakni Niki Aden dan Jaenal Abidin patut menjadi teladan bagi kita semua dalam menolong sesama.

Postingan ini sudah mendapatkan izin dari penulisnya yang juga admin dari grup ILM, pemilik akun facebook yaitu :
berikut ini tulisan selengkapnya :

Kali ini warta ILM berhasil mewawancarai salah seorang relawan yg aksinya kerap kita saksikan dalam beberapa postingan laka di beranda grup ILM (Info Lantas Mojokerto). Dia adalah Niki Aden (22) warga Desa Sambiroto Kec.Sooko Kab.Mojokerto.

Ditemui di basecamp ILM, pemuda lajang ini mengisahkan lika-likunya sebagai seorang relawan ILM. Info awal yg di dapat jika ada kecelakaan adalah dari pantauan grup ILM. Dia sudah sering ikut mengevakuasi korban Laka MD (meninggal dunia). Dari korban laka sambiroto, korban laka Kerata Api Benteng hingga yg terakhir korban Laka di Gayaman Mojoanyar.

Jika ada postingan laka yg menyebabkan korban MD, dia selalu siap siaga bergegas menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara). Seperti yg terjadi pada laka Sambiroto baru-baru ini. Ketika ia melihat info grup bahwa ada mayat tergeletak pinggir jalan, ia langsung dengan sigap mengayuh si rendy (panggilan akrab sepeda gunungnya) menuju TKP. Tanpa canggung dan kikuk, mayat langsung di bungkus plastik dan di angkut ke kamar jenazah RSUD Mojokerto.

Dalam melaksanakan tugasnya, pemuda yg juga admin grup ILM ini sangat minim peralatan. Baik alat transportasi maupun alat komunikasi. Meskipun begitu, tak menyurutkan langkahnya untuk bergerak cepat menuju TKP. Lebih hebatnya lagi, jerih payahnya menolong korban laka tersebut tidak ada imbalan materi sepeserpun.

Ketika Warta menyinggung soal gaji tiap bulannya. Mas Niki Aden menjawab:
" Gak ada mas, gaji saya ya di akhirat nanti." Jawab pria ganteng yg masih jomblo ini.

Niki Aden juga mengisahkan saat-saat evakuasi mayat ketika giginya sakit. Meskipun dalam keadaan gigi sakit, dia tetap bertugas seperti biasanya. Cekatan dan selalu semangat. Maka dari itu, sebungkus puyer sakit gigi selalu setia menemani di dalam tasnya.

Masih seputar minimnya peralatan. Saat di tanya tentang alat transportasi. ". Mas Niki Aden kenapa gak pakai motor, kok selalu mengendarai si rendy. Bukankah untuk mempercepat perjalanan ke TKP lebih cepat menggunakan motor?," Oooh... Saya Tidak bisa naik motor." Jawabnya polos. Selain tidak bisa naik motor, Mas Niki Aden juga memang tidak punya motor. Jadi dalam melaksanakan tugasnya, alat transportasi Mas Niki Aden tidak pasti. Namun dia lebih sering gowes pakai si rendy dan kadang juga bonceng temannya . Selain itu juga alat komunikasi berupa HT juga perlu ia punyai. Namun hingga saat ini dia belum bisa membeli.

Dalam melaksanakan misi kemanusiaan yg mulia ini, Mas Niki Aden tidak sendirian. Melainkan ada seorang teman karib yg selalu setia menemani dalam tugas. Beliau adalah Ahmad Zaenuri (59). Pria yg akrab di panggil Pak Jaenal Abidin ini sudah lama bertugas sebagai relawan PMI (Palang Merah Indonesia). Berbagai bentuk mayat korban MD sudah pernah di evakuasi. Dari korban yg masih utuh mayatnya hingga mayat dalam kondisi fisik hancur.

Dalam kesehariannya Pak Jaenal Abidin adalah penjual es degan di terowongan juritan (Prajurit Kulon). Profesi inilah yg menjadi pilihan untuk menghidupi keluarganya. Saat di tanya tentang gaji relawan PMI, Pria yg akrab dengan salam birunya cinta ini menjawab." Rezeki saya sudah di cukupi sama Allah dengan jual es degan. Jadi saya tidak berharap gaji dari relawan. Mungkin jadi relawan adalah tabungan amal jariyah saya di akhirat nanti." begitulah ungkapan beliau.

Baik Mas Niki Aden maupun Pak Jaenal Abidin adalah sosok yg ikhlas dalam beramal sholeh. Kita belum tentu bisa melakukan pengabdian tulus seperti mereka. Meski tidak mendapat gaji, mereka-pun tetap semangat mengevakuasi mayat. Salam hormat dan apresiasi yg tinggi buat mereka berdua.

Diposting oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi