Sabtu, 20 Mei 2023

BRI Target 1.000 Desa Diberdayakan dengan Program Desa BRILian 2023

www.kemlagi.desa.id - Membangun desa bukan hanya melalui fisik saja tetapi juga membangun sumber daya manusianya. Keberadaan sebuah desa juga didorong untuk selalu adaptif dengan perkembangan teknologi dan zaman sehingga bisa bersaing dan berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat. BRI melalui Program Desa BRILian telah mengambil peran dalam mendorong kemajuan Desa-desa di Indonesia. 

Sejak digulirkan pada 2020, Desa BRILiaN telah diikuti lebih dari 2.000 desa yang aktif dan berkomitmen untuk maju melalui program-program yang telah direncanakan. Sebagai Contoh, Desa Megulungkidul yang terletak di Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah yang bertransformasi menjadi Desa Argowisata dengan mengusung konsep agrowisata perpaduan panorama alam, pertanian kuliner dan UMKM. 

Para pengunjung di kawasan ini juga dapat menikmati fasilitas edukasi diantaranya budidaya anggur, pembuatan minyak kelapa, kerajinan batik tulis, perikanan, pembuatan kerupuk rambak bahkan budidaya ulat hongkong. 

Tahun ini, BRI kembali menggulirkan Program Desa BRILian 2023 dengan target hingga 1.000 desa di seluruh Indonesia. Program ini secara resmi dibuka di Jakarta pada Rabu (10/05/2023) dengan tema “Membangkitkan Ketahanan dan Kemandirian Ekonomi Desa di Era New Normal”. 

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari mengungkapkan bahwa Desa BRILiaN 2023 dibagi menjadi 3 batch dan dilaksanakan pada periode Mei-November 2023. Desa-desa yang tergabung dalam program ini diharapkan menjadi sumber inspirasi kemajuan desa yang dapat direplikasi ke desa-desa lainnya. Program ini merupakan program inkubasi desa yang bertujuan menghasilkan role model dalam pengembangan desa melalui implementasi praktik kepemimpinan desa yang unggul serta semangat kolaborasi untuk mengoptimalkan potensi desa berbasis Sustainable Development Goals (SDG’s),” ujarnya. 

Dalam pemberdayaannya, Desa BRILiaN mengembangkan 4 (empat) aspek yang terdapat dalam sebuah desa. 

Pertama, BUMDes sebagai motor ekonomi desa. 

Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. 

Ketiga, sustainability yang mencerminkan desa tangguh serta secara berkesinambungan melakukan pembangunan. 

Keempat, innovation yaitu kreatif dalam menciptakan inovasi. 

Sementara itu, untuk objek pemberdayaan adalah elemen-elemen kunci di desa yang meliputi perangkat desa, pengurus BUMDes, Badan Permusyawaratan Desa, UMKM di desa, perwakilan kelompok usaha (klaster) dan pegiat Produk Unggulan Kawasan Perdesaan (Prukades). 

Selain itu, BRI pun memperkuat ekosistem ekonomi desa dengan pengembangan pasar yang dihubungkan dengan platform Pasar.id dan Localoka. Tujuannya menghubungkan pedagang pasar dan UMKM dengan pembeli online. 

Untuk pemberdayaan UMKM, dapat diakses melalui link umkm.id yang memfasilitasi pelaku usaha tersebut naik kelas. Terdapat juga produk-produk layanan BRI yang dapat dimanfaatkan oleh Desa dan BUMDes seperti Agen BRILink, Stroberi, QRIS dan produk lainnya. 

Supari menambahkan, pemberdayaan wilayah pedesaan menjadi isu yang perlu diperhatikan. Mengingat perkembangan desa di Indonesia relatif belum merata dan menjadi tantangan bersama. Mengacu Indeks Desa Membangun (IDM) Tahun 2022, dari total 74.051 Desa di Indonesia, kurang dari 35% yang masuk dalam kategori maju dan mandiri. 

“Berdasarkan kondisi tersebut, sejak 2020, BRI mengambil bagian mengembangkan desa melalui program Desa BRILiaN. Desa yang tergabung dalam program ini diharapkan menjadi sumber inspirasi kemajuan desa yang dapat direplikasi ke desa-desa lainnya. Harapan kami, kegiatan yang sangat bermanfaat ini bisa diikuti oleh seluruh elemen kunci pertumbuhan ekonomi yang ada di desa”, pungkasnya. 

Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Minggu, 14 Mei 2023

Bupati Ikfina Berharap Adanya Sinergitas Kepala Desa dan BPD

www.kemlagi.desa.id - Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati berharap Badan Permusyawaratan Desa (BPD) bersama kepala desa mampu menjalin sinergitas dan menciptakan iklim yang kondusif. Dengan demikian kepercayaan masyarakat terhadap BPD tumbuh dan masyarakat dapat merasakan pelayanan terbaik yang diberikan oleh BPD bersama kelembagaan lainnya di desa. 

Hal itu disampaikan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati saat menghadiri silaturahim dan seminar peningkatan kapasitas BPD, yang diselenggarakan PAC Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (Abpednas) Kecamatan Dawarblandong, Sabtu, (13/5) siang.

"Mari bersama-sama saling sinergi, untuk membangun desa dengan menggali dan memanfaatkan potensi yang ada dengan arif dan bijaksana," ajaknya. 

Bupati Ikfina juga mengapresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan ini juga sebagai wadah untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman, khususnya bagi Anggota BPD.

"Momen berkumpul seperti ini silahkan dimanfaatkan untuk saling berkomunikasi, berbagi ilmu, dan pengalaman kepada rekan-rekan sesama profesi, dengan jalinan silaturahmi yang baik, akan terjalin komunikasi yang baik pula. Dengan begitu akan terjalin sinergitas dalam mewujudkan cita-cita pembangunan dan akan lebih cepat dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada,"ucapnya. 

Orang nomor satu dilingkup Pemkab Mojokerto ini berharap anggota dapat memahami dan mampu untuk melaksanakan tugas dan fungsi sebagai pengurus atau anggota Badan Permusyawaratan Desa dengan melihat kondisi masing-masing desa. 

Tak hanya itu, BPD harus menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara pemerintah desa dan lembaga desa lainnya dalam menjalankan roda pemerintah agar sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan agar tercapai sesuai visi dan misi Pemkab Mojokerto.

“Mari kita saling bersinergi, jaga kondusifitas dan terus tingkatkan hubungan keharmonisan antara kelembagaan dalam membangun Desa untuk kesejahteraan masyarakat,” bebernya.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kepala DPMD Kabupaten Mojokerto, Ketua AKD Mojokerto, Ketua PAC Abpednas Kecamatan Dawarblandong.

Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Selasa, 09 Mei 2023

Makna Filosofi Nasi Tumpeng, Lambang Persatuan dan Kemakmuran Pada Hari Jadi Kabupaten Mojokerto Ke 730

www.kemlagi.desa.id - Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Mojokerto ke 730, Pemerintah Kabupaten Mojokerto mengadakan  rangkaian kegiatan dalam memperingati hari jadinya, salah satunya adalah Kenduri Tumpeng 730 yang dilaksanakan di seluruh wilayah Kabupaten Mojokerto pada hari Senin, 8 Mei 2023.

Lalu makna filosofi dari tumpeng itu sendiri apa? Berikut ini kita sampaikan uraian tentang tumpeng yang merupakan warisan budaya bangsa kita terutama bagi masyarakat Jawa. 

Pada tahun 2013, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia menobatkan nasi tumpeng sebagai salah satu dari 30 ikon kuliner Indonesia. 

Penyajian nasi tumpeng dalam nampan besar, bulat, dari anyaman bambu, nasi kerucut dengan aneka lauk pauk sebagai pelengkap. Identik dengan kebudayaan masyarakat Jawa ketika perayaan suatu peristiwa penting atau kenduri.

Tumpeng berasal dari sebuah singkatan ‘yen metu kudu mempeng’ yang memiliki arti tersendiri. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, ‘yen metu kudu mempeng’ berarti ‘ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.’ 

Tak heran jika nasi Tumpeng dari dulu hingga saat ini sering dijadikan hidangan dalam suatu perayaan yang memiliki makna ucapan syukur ataupun kebahagiaan. Sebab, makna tumpeng sendiri adalah baik, yakni ketika terlahir manusia harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, dan tidak mudah putus asa. 

Umumnya, proses pemotongan ujung kerucut nasi tumpeng diawali dengan menguraikan terlebih dahulu makna perayaan dari pemotongan tumpeng, berdoa ucapan syukur, selanjutnya nasi tumpeng dipotong dan diserahkan untuk orang yang dihormati sebagai wujud penghormatan, barulah setelah itu nasi tumpeng disantap bersama-sama. 

Upacara potong tumpeng ini melambangkan rasa syukur kepada Tuhan dan sekaligus ungkapan atau ajaran hidup mengenai kebersamaan dan kerukunan. 

Ternyata dalam penyajian nasi tumpeng biasanya dilengkapi dengan 7 macam lauk-pauk. 7 dalam bahasa Jawa berart pitu Angka pitu berarti pitulungan (pertolongan). 

Berikut makna dari 7 macam lauk-pauk yang biasa disajikan dalam tumpeng: 

1. Nasi Berbentuk Kerucut 

Nasi dibentuk menjadi bentukan kerucut dapat diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera, melambangkan tangan merapat untuk selalu menyembah Tuhan, dan sebagai simbol pengharapan agar kesejahteraan hidup kita pun semakin sukses. 

Nasi yang digunakan biasanya nasi putih ataupun uduk. Warna putih berarti suci sehingga nasi tumpeng jenis ini kerap disajikan dalam upacara keagamaan. 

Sementara warna kuning melambangkan kesejahteraan, kekayaan, atau rezeki yang melimpah. 

2. Ayam 

Pemilihan ayam sebagai pelengkap tumpeng adalah ayam jago (jantan) yang dimasak utuh ingkung dengan bumbu kuning/kunir dan diberi areh (kaldu santan yang kental) yang menjadi simbol menyembah Tuhan dengan khusuk (manekung) dengan hati yang tenang (wening). Dimana ketenangan hati dicapai dengan mengendalikan diri dan sabar (nge”reh” rasa). 

Menyembelih ayam jago juga mempunyai makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago, antara lain: sombong, congkak, kalau berbicara selalu menyela dan merasa tahu/menang/benar sendiri (berkokok), tidak setia dan tidak perhatian kepada anak istri. 

3. Ikan 

Zaman dahulu ikan yang disajikan Ikan Lele. Ikan lele memiliki makna ketabahan, keuletan dalam hidup dan sanggup hidup dalam situasi ekonomi yang paling bawah sekalipun. Karakter ikan lele sendiri adalah tahan hidup di air yang tidak mengalir dan di dasar sungai. 

Lauk lain yang disajikan adalah ikan teri. Ikan ini biasanya digoreng dengan atau tanpa tepung. Ikan teri selalu hidup bergerombol. Filosofi yang dapat diambil, sebagai contoh dari kebersamaan dan kerukunan. 

4. Telor Rebus 

Nasi tumpeng dilengkapi dengan telur rebus utuh. Telur direbus pindang, bukan didadar atau mata sapi, dan disajikan utuh dengan kulitnya, jadi tidak dipotong sehingga untuk memakannya harus dikupas terlebih dahulu. 

Piwulang jawa mengajarkan “Tata, Titi, Titis dan Tatas”, yang berarti etos kerja yang baik adalah kerja yang terencana, teliti, tepat perhitungan,dan diselesaikan dengan tuntas.

Telur juga menjadi simbol jika manusia diciptakan dengan fitrah yang sama. Yang membedakan nantinya hanyalah ketakwaan dan tingkah lakunya.

5. Sayur Urap

Pelengkap lainnya adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain. Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting, antara lain: 
  1. Kangkung berarti jinangkung yang berarti melindung, 
  2. Bayam (bayem) berarti ayem tentrem, 
  3. Taoge/cambah yang berarti tumbuh,
  4. Kacang panjang berarti pemikiran yang jauh ke depan, 
  5. Bawang merah melambangkan mempertimbangkan segala sesuatu dengan matang baik buruknya,
  6. Cabe merah diujung tumpeng merupakan symbol dilah/api yang memberikan penerangan/tauladan yang bermanfaat bagi orang lain, 
  7. Kluwih berarti linuwih atau mempunyai kelebihan dibanding lainnya, dan 
  8. Bumbu urap berarti urip/hidup atau mampu menghidupi (menafkahi) keluarga. 
Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Jumat, 05 Mei 2023

Kemendagri dan Kemendes Jalin Kerja Sama Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Desa

www.kemlagi.desa.id - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjalin kerja sama penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. 

Kerja sama meliputi pelatihan hingga integrasi data. Kerja sama ini disepakati dalam audiensi Kepala Badan Pengembangan dan Informasi (BPI) Kemendes PDTT Ivanovich Agusta dengan Dirjen Bina Pemerintahan Desa Kemendagri Eko Prasetyanto Purnomo Putro di Ruang Nawasena Ditjen Bina Pemdes, Rabu (3/5/2023). 

Audiensi itu membahas pelaksanaan kerjasama penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan desa. "Di antaranya ada beberapa usulan dari Kemendes seperti pembuatan serial video pelatihan, SDGS, dan webinar, juga termasuk integrasi data aplikasi antarlembaga untuk menyatukan persepsi dalam membangun desa," kata Eko dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/5/2023). 

Selain itu, ada juga beberapa tambahan usulan terkait kebijakan satu peta dan satu data, pembuatan modul secara bersama, integrasi Sistem Keuangan Desa (Siskeudes) dan SDGS terkait pengelolaan keuangan desa, pelatihan dan lelang program P3PD yang saling melibatkan, pengaturan tata ruang dan wilayah pedesaan serta saling mengontrol tugas dan fungsi masing-masing secara bersama-sama.

"Dari hasil audiensi ini kita mendapatkan banyak usulan untuk bahan kerja sama, pertama untuk pelatihan dapat saling berintegrasi dalam hal substansi materi, webinar secara bersama-sama yang akan diatur secara teknis pelaksanaanya," ujar Eko. 

Sementara itu, Ivanovich Agusta menyampaikan terima kasih atas penerimaan kunjungan rombongannya, sehingga koordinasi terkait kerja sama berjalan baik dan lancar dalam upaya mendukung langkah koordinasi Kemendagri dan Kemendes dalam hal pembangunan desa dan tata ruang wilayah desa. 

Turut mendampingi audiensi pejabat lingkup Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Pemerintah Desa (Pemdes), Sekretaris Ditjen Bina Pemdes Paudah, Direktur Penataan dan Administrasi Pemerintahan Desa Matheos Tan, Direktur Evaluasi Perkembangan Desa Mohammad Noval serta para pejabat terkait. 

Kemudian hadir Sekretaris BPI Kemendes Fince Decima Hasibuan, Kapus Penyusunan Keterpaduan Rencana BPI Kemendes, Laode Muhajirin, Kapus Datin Kemendes Theresia Junidar, dan Kapus Pengembangan dan Daya Saing Kemendes Helmiati serta para pejabat terkait. 

Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Rabu, 03 Mei 2023

Pemkab Mojokerto Gandeng Unicef Tangani Anak Putus Sekolah

www.kemlagi.desa.id - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto menggelar audiensi bersama UNICEF. Hal tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dalam pelaksanaan program Penanganan Anak Tidak Sekolah (P-ATS) di Bumi Majapahit yang bertajuk 'Ayo sekolah rek'.

Audiensi yang dipimpin langsung oleh Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati itu, berlangsung di smart room Satya Bina Karya Pemkab Mojokerto pada Selasa (2/5) pagi.

Juga turut dihadiri Kepala Perwakilan UNICEF untuk wilayah Jawa Tubagus Arie Rukmantara, Asisten perekonomian dan pembangunan Hariono, Kepala Bappeda Kabupaten Mojokerto, Bambang Eko Wahyudi, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Ardi Sepdianto. Turut hadir pula Kepala DPMD Kabupaten Mojokerto Yudha Akbar Prabowo, Kepala Kemenag Kabupaten Mojokerto Muttakin, Camat Puri, Camat Dlanggu, Camat Gedeg, serta Camat Sooko. 

Diketahui, pada pelaksanaan program P-ATS di Bumi Majapahit, akan menyasar delapan desa yakni Desa Banjaragung dan Desa Kebonagung di Kecamatan Puri, Desa Sooko dan Desa Japan di Kecamatan Sooko, Desa Pohkecik dan Desa Randugenengan di Kecamatan Dlanggu, serta Desa Sidoharjo dan Desa Terusan di Kecamatan Gedeg sebagai pilot project program P-ATS.

Program P-ATS juga sebagai salah satu upaya dalam penuntasan wajib belajar 12 tahun serta bertujuan untuk pembangunan nasional di bidang pendidikan yang tercermin dalam Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. 

Dalam sambutannya, Kepala Perwakilan UNICEF untuk wilayah Jawa Tubagus Arie Rukmantara mengungkapkan, latar belakang pelaksanaan studi UNICEF di Bumi Majapahit adalah adanya 4.1 juta anak di Indonesia yang tidak sekolah serta berkontribusi pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). 

"Salah satu yang kita pelajari dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mojokerto ada komitmen tinggi untuk mengembalikan anak-anak kembali ke sekolah," ujarnya.

Selain itu, dalam paparannya untuk menguatkan sistem penanganan anak tidak sekolah maka gugus tugas memiliki fungsi sebagai mereview data ATS, mengidentifikasi pihak yang dapat membantu ATS kembali bersekolah, mengidentifikasi solusi bagi ATS, dan pengembalian ATS kembali bersekolah.

Lebih lanjut, juga diperlukan koordinasi multipihak, pendanaan, pendataan, dan pendampingan agar penanganan ATS dapat berhasil. 

Menurut Susenas 2020 diperkirakan ada sekitar 10.000 anak tidak sekolah di Mojokerto, sedangkan pada pelaksanaan Program P-ATS di delapan desa, UNICEF sendiri telah melakukan pendataan dengan hasil sementara pada rentang usia 7-18 tahun terdapat 115 anak tidak sekolah, serta data ATS yang mau bersekolah kembali masih 22 anak. 

Maka, untuk memaksimalkan program P-ATS di Bumi Majapahit Arie Rukmantara menilai, sangat diperlukan pendataan yang efektif, melaksanakan kerjasama multisektoral untuk mendukung dalam mengentaskan ATS. 

"Serta dijaminkan dengan produk hukum yang dapat dikeluarkan oleh ibu Bupati, karena program ini tidak hanya untuk 2023 saja, akan tetapi sampai tahun 2045," bebernya.

Sementara itu, agar pelaksanaan program P-ATS di Bumi Majapahit dapat berjalan lancar, Bupati Ikfina berpendapat, data ATS harus sesuai dengan nama dan NIK dan dapat disinergikan dengan data dari BKKBN PK 21 dan data dari Regsosek tahun 2022.

"Ini punya tiga sumber data disandingkan, sehingga ketika turun kebawah sudah bawa data, ini sama seperti penurunan stunting dan tim sudah bawa data," ujarnya. 

Bupati Ikfina juga mengatakan, untuk menindaklanjuti pendataan di seluruh desa se-Kabupaten Mojokerto, maka diperlukan suatu tim untuk menyelesaikan pendataan ATS dan penanganan ATS di Bumi Majapahit. 

"Program ini bisa menjadi inovasi, kalau perlu libatkan karang taruna, kalau kita punya desain untuk melibatkan semua pihak maka nanti bisa dibagi mana yang dibiayai pemerintah Kabupaten dan mana yang dibiayai oleh pemerintah desa," ujarnya. 

Selain itu, orang nomor satu dilingkup Pemerintah Kabupaten Mojokerto juga menjelaskan, dalam mengatasi ATS peran keluarga juga bertanggung jawab, serta dapat melibatkan pemerintah desa dan PKK. Lanjut Ikfina, dari sektor sekolah juga dapat berkomitmen untuk dapat mempertahankan siswanya agar tidak putus sekolah. 

"Kita juga harus komitmen sekolah harus mempertahankan, kalau memang seperti itu nanti guru BK yang ada di sekolah dibuatkan program yang sistematis," pungkasnya. 

Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi

Selasa, 18 April 2023

Bupati Mojokerto Berharap Agar Angka Penurunan Stunting Tahun 2023 di Bawah 10 %

www.kemlagi.desa.id - Pemerintah kabupaten Pemkab (Mojokerto) terus melakukan upaya dalam menurunkan angka stunting di Kabupaten Mojokerto. Kali ini, dalam menurunkan angka stunting, Pemkab Mojokerto menggelar rembuk stunting tingkat Kabupaten Mojokerto Tahun 2023. 

Pada pelaksanaan rembuk stunting yang bertajuk 'Strategi Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting Terintegrasi', Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati berharap, pada Tahun 2023 kasus stunting di Kabupaten Mojokerto bisa turun hingga 1 digit. 

"Mudah-mudahan di tahun 2023 ini, kita bisa menurunkan lagi 1 digitnya, tidak lagi diatas 10 persen, tetapi kita turunkan dibawah 10 persen. Kita sisir semuanya bersama-sama, bagaimana kemudian kita bisa mempercat lagi penurunan stunting di Kabupaten Mojokerto," ucap Ikfina di Pendopo Graha Maja Tama (GMT), Senin (17/4) pagi. 

Selain itu, pada pelaksanaan rembuk stunting kali ini, juga turut mengundang Ida Nurbaya dari Regional III Bina Bangda Kementrian Dalam Negeri  (Kemendagri), serta melakukan pendatanganan berita acara dan penyataan komitmen dalam menurunkan kasus stunting di Kabupaten Mojokerto. 

Terkait masalah stunting di Bumi Majapahit, Bupati Ikfina menjelaskan, bahwa di tahun 2021, menurut hasil penelitian Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) angka stunting di Kabupaten Mojokerto mencapai 27,4 persen. 

Dengan hasil tersebut dan telah mendapatkan data dari keluarga beresiko stunting, Pemkab Mojokerto segera membentuk Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS). 

Lanjut Ikfina, sehingga dengan adanya TPPS, Pemkab Mojokerto dapat berupaya menurunkan angka stunting dengan melakukan intervensi secara sensitif, maupun intervensi secara spesifik. 

"Bagaimana kita mengecek terkait dengan empat kategori keluarga beresiko stunting, kemudian kita mencoba untuk bersama-sama melakukan intervensi secara sensitif. Tahun 2022 kita juga telah melaksanakan pembangunan jamban besar-besaran di Kabupaten Mojokerto untuk masyarakat yang tingkat ekonominya belum bisa membangun jamban sendiri. Hal ini merupakan bagian dari intervensi sensitif," bebernya.

Terkait pembangunan jamban, Bupati Ikfina juga menilai, hal tersebut sangat penting karena salah satu penyebab infeksi berulang pada balita adalah agen penyakit yang dikeluarkan dari tubuh manusia melalui feses. 

"Maka, ketika kita benar-benar belum bisa memastikan semua feses ini masuk kedalam septic tank yang layak, maka agen penyakit yang bisa menyebabkan infeksi berulang pada balita masih berada disekitar kita," ujarnya. 

Selain membangun jamban, dalam menurunkan angka stunting, Bupati Ikfina juga mengimbau, agar terus melakukan monitoring terhadap sasaran intervensi spesifik mulai dari para remaja putri serta anak-anak balita.

"Perlu dilakukan monitoring yang terus-menerus, karena secara nasional Presiden telah menargetkan angka stunting tahun 2024 sebesar 14 persen, sementara hasil SSGI 2022 masing diangka 21,6 persen. Alhamdulillah pada tahun 2022 angka stunting di Kabupaten Mojokerto di angka 11,6 persen. ini perlu diwaspadai, karena angkanya bisa naik lagi, dan stunting ini tidak bisa selesai karena ada bayi-bayi setiap hari lahir dan ada balita yang lulus karena usianya sudah diatas lima tahun," bebernya. 

Orang nomor satu dilingkup Pemerintah Kabupaten juga menilai, penurun kasus stunting menjadi hal yang sangat penting, karena stunting sangat mempengaruhi kualitas SDM dengan tingkat kecerdasannya dibawah 20 persen rata-rata. 

"Jadi adiknya harus unggul, cerdas, terampil, dan harus produktif, ini sesuaindengan misi dari Pemerintah Kabupaten Mojokerto, dan tidak cukup SDM yang sehat, unggul, terampil dan yang produktif, tetapi juga memiliki nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang kuat sehingga betul-betul bisa melaksanakan fungsinya sebagai manusia yang bermanfaat secara lahir dan batin," ujarnya. 

Diakhir sambutannya, Bupati Ikfina meminta, Sekdakab Teguh Gunarko, untuk memonitor beberapa desa yang masuk dalam lokus stunting di 2024. Antara lain, Kecamatan Pacet (Desa Sajen dan Cempokolimo), Kecamatan Trawas (Desa Ketapanrame, Trawas, Tamiajeng, Kesiman, Belik, Duyung, Penanggungan, Seloliman dan Jatijejer), Kecamatan Dlanggu (Desa Kedunggede dan Talok), Kecamatan Sooko (Desa Kedungmaling, Sambiroto, Wringinrejo dan Ngingasrembyong), serta Kecamatan Gedeg (Desa Bandung). 

Hal tersebut perlu dilakukan, lanjut Ikfina, agar di akhir tahun 2024, angka stunting di Kabupaten Mojokerto bisa turun hingga 5,5 persen, sehingga dalam menurunkan angka stunting di KabupateMojokerto sangat diperlukan pelaksanaan program penurunan stunting dengan baik. 

"Maka perlu memetakan semuanya, kita lakukan program dengan baik, tidak ada satupun ibu hamil yang teridentifikasi dan didampingi dengan baik, dengan begitu, maka kita akan bisa mengerem bayi yang lahir stunting dan balita semuanya juga terpantau," pungkasnya.

Diketahui pada pelaksanaan rembug stunting tingkat Kabupaten Mojokerto Tahun 2023, juga turut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Mojokerto Teguh Gunarko, para kepala OPD, Kepala Puksesmas, Camat se-kabupaten Mojokerto, serta 18 Kepala Desa yang menjadi lokasi fokus stunting. 

Dikabarkan oleh Tim Pengelola Informasi Desa Kemlagi